Jadi Pengusaha Wujud Kontribusi Cinta Indonesia

By | December 14, 2014

Mengawali dunia usaha di bidang sekuritas, CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo, kini menjadi pengusaha yang sukses. Saat ini Hary Tanoesoedibjo menjadi salah satu entrepreneur yang sangat ditunggu kehadirannya untuk bisa memotivasi kaum muda agar bisa mandiri.
Pria yang akrab dipanggil HT itu membagi pengalamannya menjadi seorang pengusaha saat memberikan kuliah terbuka di kampus UMS Solo, Jawa Tengah.

Saat menjadi pembicara dalam kuliah umum di UMS, HT menyatakan Indonesia masih membutuhkan banyak pengusaha baru. Sebab jumlah pengusaha Indonesia saat ini jauh dari angka minimum jumlah yang ideal dan angkanya masih di bawah 2 persen. Seharusnya angka yang ideal dari tatanan ekonomi adalah di atas 2 persen.

Menurut HT, Indonesia sangat membutuhkan pengusaha baru karena pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja.

“Paling tidak dia mempekerjakan dirinya sendiri, jika kemudian usahanya berkembang dan punya karyawan itu jauh lebih bagus,” ungkap HT usai memberikan kuliah terbuka di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (11/12/2014).

HT mengungkapkan, Indonesia memiliki jumlah pemuda sangat besar. Pasalnya, hampir separo masyarakat Indonesia berusia di bawah 30 tahun.

Anda punya bisnis? berarti WAJIB PUNYA WEBSITE untuk Kampanye profile usaha Anda di internet agar dikenal masyarakat Luas. Urusan website? Kunjungi ADROHOST.COM !

Oleh karena itu, kebutuhan untuk pekerjaan bagi para pemuda sungguh luar bisa banyaknya. Jika Indonesia bisa menciptakan lapangan kerja baru, secara otomatis akan meningkatkan penerimaan pajak bagi negara. Seperti pajak penghasilan dan juga pajak pertambahan nilai yang bisa masuk ke negara.

Menjadi pengusaha merupakan salah satu kontribusi dan wujud cinta kepada Indonesia. Dengan membantu menciptakan lapangan kerja baru. “Indonesia memiliki yang sangat besar. Kita bisa melihat Indonesia dalam dua sisi. Pertama banyak masalah yang harus diselesaikan dan di sisi lain banyak kesempatan yang bisa dimaksimalkan,” terangnya.

HT mencontohkan “turn around” dari group MNC terjadi saat krisis 1998. Di situ tergantung bagaimana melihatnya, apakah itu masalah atau kesempatan. “Namun saya melihatnya itu kesempatan, sampai akhirnya MNC group berkembang sangat pesat,” tegas HT.

HT juga menerangkan, saat mengembangkan MNC group pada waktu itu tidak banyak kompetisi. Pengusaha banyak yang pesimis tentang masa depan Indonesia saat terjadi krisis 1998.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti-Spam Quiz: